Jurnalisme Warga, Semua Bisa Jadi Wartawan

PUTAR frekuensi radio Anda ke 107,5 FM, simak untuk beberapa saat. Yang akan anda dengar pasti berbagai informasi yang terjadi di luar sana.

Informasi yang Anda dengar berisi tentang kemacetan kota, kecelakaan lalu lintas, dan beragam situasi yang berkembang dari berbagai peristiwa. Jika Anda mendengarkan seharian penuh, berita yang Anda dapat mungkin sampai lebih dari seribu.

Bayangkan, seribu informasi tentang apa pun yang terjadi di sekitar kita, dan yang menjadi pewartanya adalah warga itu sendiri. Inilah konsep jurnalisme warga yang dikembangkan oleh radio bernama PRFM.

Sunggu suatu pencapaian luar biasa. Hanya dalam waktu satu tahun, radio ini sudah menjadi sumber berita dan referensi utama warga Bandung. Padahal awalnya, ketika masih bernama Radio Mustika, radio ini bermain di segmen umum.

Bukan hanya informasi sekilas saja yang disiarkan PRFM kepada pendengarnya. Radio ini juga menyajikan berbagai konfirmasi kepada pendengarnya. Misalnya, Kamis (4/11) lalu saat terjadi peristiwa meledaknya mesin pesawat Airbus A-380 milik maskapai penerbangan Qantas di udara Pulau Batam, seorang pendengar setia PRFM yang kebetulan sedang berada di Batam melaporkan peristiwa itu. Tak lama kemudian, di udara pun terdengar wawancara penyiar PRFM yang mengonfirmasi kejadian itu kepada Menteri Perhubungan Freddy Numberi.

Inilah potret bagaimana konsep jurnalisme warga dapat diterapkan dan berjalan dengan ideal di Bandung. Ketika banyak orang masih mendebatkan bagaimana jurnalisme warga bisa diterapkan dan melalui medium apa, PRFM memberi jawabannya. Di Bandung, jurnalisme warga cocok diterapkan melalui medium berita. Di kota ini semua orang bisa menjadi wartawan sekaligus konsumen berita itu sendiri. Tidak hanya itu, warga yang ingin terlibat dalam memberikan dan menyebarkan informasi harus bertanggung jawab atas kesahihan informasi itu.

**

HANYA keyakinan yang menjadi modal Direktur Utama PT Mustika Parahyangan Wan Abas dan konsultan PRFM Indra Bigwanto ketika menjalankan konsep citizen journalism di PRFM.

Radio yang dulu bernama Radio Mustika itu mengubah segmen siarannya dari radio dengan segmen umum ke segmen berita agar bisa bertahan hidup di tengah ketatnya persaingan bisnis radio di Bandung. Ketika diserahi tanggung jawab mengurusi radio itu, hanya konsep radio berita yang ada di kepala Wan Abas. Ide itu kemudian dikuatkan konsep dari Indra.

“Di Bandung belum ada radio yang benar-benar menjadi radio berita. Dulu memang ada radio yang kuat dalam jurnalisme radionya. Akan tetapi, kini radio itu sudah mengubah segmennya. Kami memutuskan bermain di segmen berita karena memang kita masih bersaing di segmen itu,” kata Wan Abas saat ditemui di kantornya di Jln. Braga No. 5 Kota Bandung.

Pada 8 Oktober 2010, dalam usia yang baru setahun, PRFM sudah bisa menancapkan kukunya dalam segmen radio berita di Bandung. Padahal setahun lalu, konsep radio berita PRFM dijalankan dengan kegamangan.

Sampai tahun 2009, Radio Mustika sedang kondisi morat-marit. Rating pendengarnya anjlok terus setiap tahun. Pemasukan iklan pun minim. Persaingan ketat menuntut setiap personel bekerja keras demi eksistensi radionya.

**

Mari sedikit melihat sejarah ke belakang. Pada awal berdirinya, stasiun radio yang disahkan pejabat dari RTF (Radio Televisi dan Film) ini bernama Parahyangan Radio yang dipimpin oleh Hilman B.S.

Sejalan perkembangan zaman, Agustus 1989 Radio Mustika Parahyangan dialihkan kepemilikannya kepada PT Mustika Parahyangan dan menjadi bagian dari Pikiran Rakyat Group dengan penanggung jawab Atang Ruswita.

Pada 20 Maret 1990, dikeluarkan akta sekaligus diresmikannya Radio Mustika Parahyangan. Beroperasi pada frekuensi 116 AM dengan menginduk pada PT Pikiran Rakyat. Pada tahun 1994 terjadi perpindahan dari frekuensi AM ke FM. Setelah empat tahun beroperasi di frekuensi FM, Mustika mencoba mengubah format siarannya.

Pada tahun 1998, format siaran dari segmen wanita berubah menjadi multisegmen. Namanya pun diubah menjadi Parahyangan FM dengan jenis musik dangdut dan daerah. Akan tetapi, hal ini justru menimbulkan kemunduran. Akhirnya pada Februari 1999, Mustika kembali lagi menjadi radio wanita dengan nama Mustika Parahyangan.

**

Pada tanggal 1 Maret 1999, dimulailah on air Radio Mustika pada frekuensi 107, 55 FM. April 2003, terjadi perubahan format Radio Mustika karena perubahan manajemen. Dengan gaya baru, disesuaikan dengan kebutuhan, Radio Mustika memiliki statement positioning “Smart and Beauty” .

Untuk meningkatkan kinerja Radio Mustika dan memperluas pangsa pasar, sejak 28 Agustus 2003 PT Radio Mustika Parahyangan yang awalnya beralamat di Jln. Sekelimus Barat No 6 Bandung, pindah ke Lower Ground Floor 1-2 Gedung Bandung Trade Center ( BTC) di Jln. Dr. Djundjunan (Terusan Pasteur) No 143-149 Bandung.

Masih di bawah naungan Pikiran Rakyat Group, pada Januari 2009 Radio Mustika FM berubah nama menjadi Radio PRFM. Secara garis besar dan materi siaran, Radio PRFM tetap sama dengan Radio Mustika. Hanya untuk materi dan ciri khas, yang ditampilkan adalah radio dengan siaran berita dan musik.

Untuk itu dipakai “Inspiring News ‘ n Music” sebagai slogan Radio PRFM. Awalnya PRFM beralamat di Ruko Kopo Plaza Blok A No.12 A Bandung. Studio PRFM kemudian pindah ke Jln. Braga No. 5 sampai sekarang.

“Unsur musik kami masukkan agar membuat kemasan berita menjadi lebih menarik. Ini yang membedakan PRFM dengan radio berita jaringan dari Jakarta. Kami menggunakan back sound, dan itu ternyata membuat siaran berita menjadi lebih akrab bagi pendengar,” kata Wan Abas.

**

Saat mulai menerapkan jurnalisme warga di radio, kru PRFM harus berjuang keras melakukannya. Maklum, saat itu warga Bandung masih belum akrab dengan konsep berita yang dilaporkan langsung oleh warga.

Redaksi PRFM pun harus menerjunkan beberapa orang menjadi reporter di lapangan untuk melaporkan peristiwa melalui telefon dan SMS (short message service). Tujuannya memancing antsiasme warga dalam melaporkan peristiwa di sekitar mereka.

Lalu target informasi dari warga mulai dinaikkan sedikit demi sedikit. Mulai dari 300 SMS per hari naik menjadi 600 SMS per hari lalu naik lagi menjadi 1.000 sms per hari. Dan kini setiap hari, rata-rata ada 1.500 sampai 1.800 SMS dari warga. Isinya melaporkan berbagai peristiwa di sekitar mereka. Terkadang, informasi itu bukan saja tentang peristiwa yang terjadi di Bandung, tetapi juga di daerah yang jauh dari Bandung. Contohnya, seperti informasi meledaknya mesin pesawat Qantas itu.

“Kami optimistis kami bisa mendominasi segmen berita di wilayah Bandung. PRFM ini luar biasa. Bayangkan, kami hanya memiliki enam personel untuk mengolah dan menginformasikan 1.800 berita per hari,” kata Indra Bigwanto.

Kalau radio berita jaringan di Jakarta bisa menghasilkan banyak berita karena mereka memiliki dua ratus wartawan tersebar di seluruh Indonesia. PRFM, di Bandung saja berita yang disiarkan setiap hari jumlahnya sampai 1.800 berita. “Sepanjang karier saya sebagai konsultan radio, baru kali ini saya menggarap radio berita dengan konsep jurnalisme warga. Dalam waktu setahun berhasil mencapai hasil luar biasa seperti ini,” kata Indra.

Anda sudah siap menjadi jurnalisme warga yang bertanggung jawab? Putar frekuensi ke 107,5 FM. Perhatikan apa yang terjadi di sekitar Anda dan sebarkan informasi melalui radio ini karena setiap orang berhak menjadi wartawan dan bisa menjadi wartawan. (Zaky Yamani/”PR”)***

Sumber: Pikiran Rakyat, Senin, 8 November 2010.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: