Kini di Radio Dangdut Indonesia Ada Lagu Pop-nya

Dulu ada RD TPI. Radio Dangdut TPI. Tahu kan dengan singkatan dari TPI-nya. Itu tuh salah satu televisi swasta di negara kita.

Namun, seiring dengan pergantian nama dari TPI ke MNC TV, RD TPI pun mengganti namanya menjadi RDI, Radio Dangdut Indonesia. Karena Dangdut, tentu lagu-lagunya dangdut.

Kini, beberapa waktu yang lalu, ada yang tidak biasa di RDI. Ya, selain dangdut, ada juga lagu non-dangdut alias pop.

30 Comments »

  1. 1
    ricky Says:

    hanya opini saja… sebenarnya RD TPI atau kemudian menjadi RDI disetting untuk menjadi radio berformat dangdut, dan memang mereka sukses menjadi radio yang berpengaruh untuk format ini, pendengarnya pun lumayan banyak, dan untuk di jakarta dan sekitarnya mereka sukses. hal ini juga seiring dengan trend musik dangdut dan format dari TPI dan MNC TV yang lebih melayani target pendengar umum/dengan SES menegah ke bawah.

    namun beberapa tahun terakhir musik dangdut trend nya tidak sebaik 5-10 tahun lalu, dan mulai tergantikan dengan musik pop melayu, dan pop indONEsia.. selera pendengar pun juga ke arah ini. hal ini pula lah yang mebuat banyak stasiun radio yang semula berformat pure/full dangdut menjadi mulai memainkan pula musik pop melayu/pop indONEsia. di bandung, silakan cek siaranya dahlia fm, rama fm, dahlia, atau cakra… mereka juga melakukan hal yang sama. RDI juga kini jika diperhatikan mengubah dirinya menjadi neo RDI.

    • 2
      radiobandung Says:

      Berbicara tentang New atau Neo, selain NewShinta, kini yang saya dengar New MGT. Saya tidak tahu apakah New MGT pada FM 101.1 MHz itu berupa perubahan makna atau kata.

  2. 3
    ricky Says:

    mengenai new shinta fm, berubah secara ‘brand’, dari radio shinta buana menjadi new shinta fm, seiring pula dengan perubahan kepemilikan, format radionya. kalau the new MGT FM (atau sebelumnya juga dilakukan oleh the new delta fm) ini hanya dimaksudkan penguatan disisi content, target pendengar… dibuat lebih mass, musik yang dimainkan mirip gen fm, jak fm di jakarta, atau di bandung seperti urban radio… radio ybs berupaya menunjukan ada yg berubah dari content sebelumnya… mara fm juga sebenarnya juga berubah, brand new mara fm… dari radio mara dengan format yang sebelumnya menadi mara fm, 3 tahun lalu, dan kesuksesannya mulai dirasakan per tahun ini.

  3. 4
    Johannes A. Says:

    Ini adalah fenomena radio di Indonesia. Perkembangan radio di Indonesia semakin meningkat tajam dari segi quantity namun qualitas monoton. Banyak pengusaha begitu semangatnya mendirikan radio namun ditengah perjalanan kita akan menemukan istilah akuisisi. Sebenarnya radio tidak bisa di akuisisi apapun alasannya. Karena frekuensi radio terbatas dan milik negara jadi jika sebuah radio tidak bisa bertahan seharusnya dikembalikan oleh negara. Saya melihat fenomena radio di Indonesia monoton. Misalnya perhatikan tagline : memutarkan yang hits, memainkan yang terbaik, hanya memainkan lagu ter dan ter… hampir semua radio punya tagline demikian. Ini diakibatkan (menurut saya) karena radio station sudah frustasi menghadapi serangan MP3, Radio Streaming. Jadi mereka menjual tagline yang identik dengan lagu… berbeda dengan masa 80an-90an bahkan 2000an awal, banyak radio memiliki tagline ingin mengangkat nama radio atau lokasi radio misalnya, the station of …. .Banyak pendengar radio beralih kepada MP3 dan Radio streaming karena mereka bisa mendengarkan lagu dengan puas tanpa dipotong oleh iklan ataupun penyiar radio.
    Contoh lain bisa kita perhatikan sebuah (bahkan dua) radio anak muda yang memilki jaringan yang sekarang tidak kedengaran beritanya. Awalnya semangat namun ditengah jalan ya…tidak bertahan. Radio bisa bertahan karena ada pemasukan iklan. Meskipun jumlah pendengar banyak, rating tinggi tapi pemasukan iklannya sedikit…kita tunggu saja pasti tidak bertahan. Apalagi jumlah stasiun televisi pun meningkat. “Kue” iklan pun sulit didapat.
    Saya tinggal di jakarta dan saya memperhatikan radio siaran di Jakarta begitu-begitu saja. Bosan dan jenuh… Kalau di era 90an radio di Jakarta banyak pilihan. Mau radio rock, radio dangdut, radio wanita, radio berita, radio humor, radio jazz, radio klasik dsb ada semua di Jakarta. Tinggal memilih. Kini Program acara sarapan pagi yang biasanya ada 2 penyiar hampir semua radio di Jakarta ada. Jadi menurut saya kalau radio berubah nama atau menampilkan sebuah kata atau istilah lain didepan nama radionya…itu merupakan kebingungan radio tersebut.

    • 5
      ricky Says:

      hanya opini saja, sebenarnya semua itu berdasar pada bisnis radio broadcasting yang dilakukan pemilik dan pengelola stasiun radio, bagaimana mereka berupaya memahami dan menjalankan strategi bisnisnnya, dan bagaimana mereka berusaha dapat beradaptasi dengan setiap perubahan–baik dari sisi pendengar, pengiklan, dan industri radio nya sendiri.

      masa kini tentunya berbeda situasinya dengan era 1980an hinga awal 200an, sehingga diperlukan strategi yang relevan dengan kondisi sekarang, jika kita melihat dari sisi stasiun radionya tentunya ada dua sisi–internal dan eksternal. radio di Indonesia sekarang tidak se-sexy masa lalu (secara umum), namun demikian, ternyata tetap/sangat menguntungkan bagi sejumlah stasiun radio/grup radio yang mampu beradaptasi dengan perubahan… misalnya kesuksesan mahaka, masima, ardan, suara surabaya, MRA media, dan sejumlah radio nasional/lokal lainnya.

      intinya, pemasang iklan masih tetap beriklan di radio, walaupun porsi placement nya tidak sebesar seperti di masa lalu, mereka pun kini lebih memilih melakukan placement… jadi memang tidak merata secara kuantitas maupun nilai iklannya. jika melihat dari sisi radio yang tidak mampu beradaptasi cepat terhadap perubahan dan hanya menggunakan strategi bisnis yang tidak relevan tentunya kondisi radio di Indonesia dikatakan kondisinya sulit (umum). tetapi jika kita mendapatkan data2 dari radio2 yang sukses dan berpengaruh, tentu jawabannya sebaliknya. jadi sebaiknya dilihat case per case, ini yang akan lebih reliable data dan kondisinya.

      mengenai radio di Indonesia, dianggap monoton atau frustasi, atau pada contoh kasus tagline radio yang identik dengan lagu… saya justru melihatnya sebagai cara radio beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi. baik menjalankan strategi yang didasarkan atas riset dan rating, ataupun gejala mencoba mencotoh kesuksesan radio lain… dan mengapa sekarang banyak radio menggunakan tagline yang identik dengan klaim lagu2 yang mereka mainkan, ini karena didasarkan atas hasil riset dalam 2 tahun terakhir… bahwa alasan utama/pilhan nomor satu pendengar mendengarkan radio karena… lagu/musik nya, setelah itu karena content, penyiarnya, dll. (walaupun ini memang menurut saya agak aneh, atau bagaimana mereka sebaiknya memahami hasil riset ini, secara bertahap dan beradaptasi dengan perubahan tsb.). untuk yang radio online di Indonesia masih sedikit dibandingkan yang melalui radio reciever/teristerial, demikian juga dengan profit dari media online nya ini. generasi sekarang bukan seperti generasi dahulu yang suka mendengarkan radio, generasi sekarang belum menempatkan radio sebagai media utama mereka (social media, tv, event).

      mengenai pada era 90an, banyak pilihan format itu hal yang sangat berkesan bagi kita selaku pendengar radio… banyak pilihan, namun akhirnya balik lagi ke bisnis… berapa profit yang bisa didapat radio yg berformat khusus/segmented?? apalagi yang estimasi pendengarnya tidak banyak… ini akan sulit, di sisi pengiklan tentunya ingin radio yang pendengarnya yang banyak dan berkualitas, sesuai target market. hal ini yang menjadi kendala radio2 yang berformat segmented… misal M97, GMR FM, Radio One (rock, atau radio format untuk laki2), CNJ, Top FM jakarta, suara sakti semarang (jazz, musik klasik), otomotion (atomotif), delta fm, galang fm (oldies), juga hal penting lainnya adalah perubahan trend selera musik secara nasional, dan juga terlalu banyaknya jumlah radio di 1 daerah/yang berdekatan. sehingga membuat sulit masing2 radio untuk berkembang, terlebih lagi misalnya harus berhadapan dengan stasiun radio yang kuat–baik secara brand, historis, finansial.

      menurut saya, radio tidak bingung… tetapi sedang berupaya beradaptasi sesuai perubahan dan kebutuhan masa kini.

  4. 6
    Johannes A Says:

    Kebingungan yang dialami radio berdasarkan informasi dari radio itu sendiri meskipun tidak di ekspos ke luar. Ya kembali lagi soal gengsi. Kebingungan yang dimaksud adalah memilih program dalam arti luas. Lama-lama kebingungan akhirnya frustasi sebagai contoh dua radio anak muda di Jawa Barat (maaf saya tidak menyebutkan nama radio dan kota secara detail di sini) yang memiliki radio di kota di Pulau Sumatera. Radio yang ada di Sumatera ini sudah tutup sedangkan nama radio di kota asal nya atau pusatnya cukup trendsetter di kotanya. Radio/Televisi/ Media cetak bisa hidup karena pemasukan iklan. Kalau ada radio bisa hidup tanpa iklan kemungkinan ada subsidi silang. Mungkin ownernya memiliki usaha lain. MRA, Mahaka dll bisa bertahan karena punya usaha lain selain radio broadcasting, sekarang bagaimana dengan radio single.
    Saya pernah melakukan survei meskipun cuma iseng doang. Saya menanyakan kepada 100 orang yang mendengarkan lagu via handphone entah di jalan/ makan di resto dsb secara acak. Pertanyaannya adalah simple, anda sedang mendengarkan lagu melalui radio, mp3 atau streaming? Wow… 100 orang menjawab MP3.
    Saya menilai radio saat ini diposisikan saya sebagai pendengar dan pengamat radio bukan dari saya sebagai klien/ mitra dari radio.

    • 7
      ricky Says:

      pak johannes thanks untuk penjelasannya… ini bisa menjadi perspektif lain yang memperkaya kita dalam berdiskusi mencoba memahami kondisi peradioan di Indonesia sekarang.

      mohon penjelasannya lebih detail mengenai: “Kebingungan yang dimaksud adalah memilih program dalam arti luas”

      sama pak, saya pun melihat dari sisi saya sebagai pendengar, kalo sebagai pengamat saya sih belum lah… hanya sebagai pendengar radio saja, berdasar pengalaman saya sebagai pendengar radio selama ini plus kemudian sempat ikut diskusi dengan sejumlah orang radio saja.

      sekedar pendapat saja, kondisi yang terjadi sebaiknya berdasarkan case by case masing2 radio, dan harus dari segala persfektif sehingga analisis kita pun semakin tepat–dari sisi kita sebagai pendengar radio dan industri radio nya.

      sebagai pendengar radio, saya pun merasakan misalnya untuk dunia radio siaran swasta di bandung tidak terjadi banyak perubahan signifikan dalam 10 tahun terakhir, mungkin kang @radiobandung juga merasakannya, tidak banyak terjadi hal2 yang dianggap ‘luar biasa’ dibandingkan ketika transisi AM ke FM dulu dimana radio2 mulai memposisikan dirinya dengan format dan target pendengar tertentu. hingga era munculnya 99ers bandung di akhir 90an.

      kondisi di jakarta justru sangat dinamis, setelah era prambors dll. di tahun 1980an-1990an, muncul hard rock fm yang sangat sukses di era 90an, kemudian era gen fm di 2000an.

      namun radio di bandung di era awal 2010 sudah mulai mengeliat lagi… sebagai contoh dari data yang saya peroleh dari teman2 yang bekerja di industri radio di bandung.. kini sudah masuknya radio2 ‘baru’ di top 5, top 10 dan top 15 rating radio di bandung… antara lain urban radio, bobotoh fm, yang cukup fenomena di bandung dalam beberfapa tahun terakhir, kemudian masuknya new shinta fm dan mara fm (dengan format baru) sebagai radio yang mulai digemari pendengar dewasa di bandung. tentunya diharapkan dengan radio2 utama dan para ‘pendatang baru’ (dapat digolongkan sebgai radio ‘single’/non-network) ini mulai sukses, diharapkan akan berimpact juga pada profitnya.

      pada posisi ini, ketika sebagai pendengar, kita paling hanya mengetahui radio mana saja sih yang kira2 secara umum disukai masyarakat, dan mana yang kira2 kurang diminati oleh masyarakat umum… nah ketika dikaitkan dengan hal lain nya misal pendapatan iklan, fakta sebenarnya, dll. kita pun harus mendapatkan data yang ‘reliable’, dan memahami sumber data, bagaimana sumber datanya… pada posisi ini lebih dari sekedar pendengar biasa, karena melakukan data gathering lebih lanjut.

      data yang diperoleh dari radio yang sedang ‘bermasalah’ tentunya akan berbeda dengan data yang diperoleh dari radio yang dianggap sehat/sukses di area tertentu… ini yang saya dapatkan dari diskusi teman2 radio tersebut, dari kedua2nya. sebagai contoh pada diskusi dengan teman2 dari radio suara surabaya, ardan, prambors, gen fm, MRA, justru mereka menjelaskan bahwa mereka survive, lancar2 saja, dan bahkan sesuai yang diharapkan, bahkan diantaranya lebih progresif memasuki market lain.
      saya pun sempat berdiskusi dengan teman radio2 lainnya yang menurut mereka mengalami masa sulit… dari kedua kondisi radio tersebut memang mindset, kemampuan, dan effort nya berbeda, dan solusinya juga tidak bisa instant atau usahanya boleh hanya sekedarnya saja, atau tinggal meniru sacara kasar, dll.

      benar, mahaka dan MRA mempunyai usaha dibidang non-radio, tetapi sepengetahuan saya pengelolanya juga bertindak realistis, jangan sampai unit radionya menjadi beban unit usaha yang lain… dan sepengetauan saya radio2nya secara umum dianggap kuat bukan ditopang unit usaha lainnya, tetapi memang mereka juga bagus mengelola radio2nya… cek saja gen fm, jak fm, prambors, i-radio, hard rock fm… yang dianggap lemah mengalami penurunan, mereka ubah content, bahkan format dan target pendengarnya yang berdasarkan survei bisnis mereka. contohnya prambors, bobotoh, she radio, dan trax.

      mengenai dua radio asal jawa barat… sebagai pendengar radio yang juga pernah menjadi pendengarnya, kedua radio ini pula mengalami masa sulit di bandung nya juga saat ini, kalah bersaing dibandingkan radio lain (misal dari jumlah pendengarnya), sudah tidak menjadi trendsetter lagi saat ini… sedangkan kondisi bagi anggota grup nya di luar bandung, saya pernah mendapatkan informasi langsung dari pengelolanya bahwa banyak hal yang menyebabkan beberapa station anggotanya harus ditutup/tidak dilanjutkan… ini lebih ke aspek bisnisnya, non-teknis, dan berbeda2 kasus utamanya, bukan kebingungan atau bahkan frustrasi🙂
      untuk mengetahui kenapa hal ini terjadi tentunya kita tidak dapat berasumsi hanya berdasarkan dari sisi kita sebagai pendengar saja, karena ternyata masing2 kasus mempunyai unique problem, dibutuhkan data yang lebih lengkap per kasusnya dari masing2 radionya.

      survei pak johanes mengenai habit mendengarkan musik/lagu, itulah gambaran umum yang terjadi… mereka memainkan lagu yang mereka suka, yang mereka punya… inilah yang saya sebut sebagai radio tidak se-sexy dulu, bukan prioritas/pilihan utama, berbeda dengan era 90an kan?😀 …coba ditanyakan lebih lanjut, untuk eksplor habit mendengarkan radionya… kenapa gak dengerin radio?? pernah dengar siaran radio via gadget nya gak?? jika pernah radio mana yg didengar? berapa lama dengernya? kenapa denger radionya? jika mereka pernah/suka denger radio via gadgetnya… kayaknya umumnya dengar radio mereka akan bilang dengerin lagu nya, nah terus bedanya apa dengan denger mp3?? inilah mengapa juga yang menjadi alasan sekarang banyak radio menggunakan tagline musik yang mereka mainkan,

      • 8
        radiobandung Says:

        Saya menyimak pendapat Kang Ricky dan Mas Johannes deh🙂 Mantappp. Saya pernah membahas bahwa kini siaran radio sudah mencair. Perbedaannya sudah mengecil.

        Saya juga pernah mendengar orang kantoran yang mendengarkan salah satu radio. “Enak-enak yah lagunya” ungkapnya. Berarti lagunya yang menjadi daya tarik.

        Soal iklan, saya melihatnya dari sisi “nama besar” (mungkin pendapat ini keliru). Artinya, radio A punya iklan karena nama besarnya atau sudah dikenal sebelumnya. Katakanlah ada keberlangsungan relasi. Kalau radio “baru” kan susah (?). Padahal menurut saya, siarannya “kalah” dari radio-radio lainnya (paling tidak menurut saya).

        Selain itu, bisa saja pendengar radio itu banyak tetapi iklannya sedikit. Saya melihatnya dari sisi produk. Misalnya, radio A banyak didengarkan kalangan menengah-bawah, tetapi pengiklan merupakan perusahaan menengah-atas. Boleh jadi pengiklan tidak memasang iklan di radio tersebut. Pendengarnya boleh jadi “sedikit” tetapi efektif, seperti kalangan menengah-atas yang potensial.

  5. 9
    Johannes A Says:

    Just info. Dua radio swasta di salah satu kota di Jawa Barat memiliki radio juga di kota di Pulau Sumatera dan Pulau Jawa. Radio yang ada di Pulau Sumatera ini (yang dimaksud) telah tutup alias bangkrut. Memang tidak ada radio mengatakan bangkrut ke umum…gengsi dong. Namun meskipun demikian tetap pendengar radio dan pengamat radio menyimpulkan radio tersebut bangkrut. PEMASUKAN RADIO HANYA IKLAN TIDAK ADA YANG LAIN. Dua radio swasta ini di Jawa Barat ini terbilang kuat di kotanya. Apalagi menurut survei kedua radio ini dapat diperhitungkan. Keduanya radio anak muda. Yang di Pulau Jawa sepertinya sudah diakuisisi namun bingung pilih program apa dan yang di Pulau Sumatera sudah siaran cukup 3 bulan lebih langsung ganti nama dan sekarang sudah siaran.
    Mengenai pertanyaan sehubungan gadget hal tersebut pernah dilakukan namun 100% tetap mengatakan mendengarkan MP3. Beberapa pertanyaan lainnya tetap lebih banyak memilih MP3. Pengambilan pertanyaan di kota Jakarta. Saat bertanya saya tidak menanyakan apa nama radio pilihan, lagu pilihan dan jam mendengarkan.

    Sekian

  6. 10
    Johannes A Says:

    Tutupnya radio memang bukan kebingungan atau frustasi tapi BANGKRUT. Yang saya katakan kebingungan/ frustasi menyangkut memilih program dan lagu. Program sarapan pagi antara jam 6-9 pagi itu-itu saja. Dua penyiar dan lagunya sama dengan radio tetangga. Makanya saya menjelaskan dari sudut pandang pendengar dan mengamati perkembangan radio di Indonesia bukan dari karena mitra/ klien bisnis atau partner di radio.

  7. 11
    misael Says:

    Sudah bisa ditebak dua radio yang bangkrut itu adalah oz radio di palembang (jelas karena saya dengar di station id tidak disebut lagi oz palembang) dan satu lagi 99ers jakarta (?)

    Betul kesuksesan radio ditentukan dari banyak alasan teknis juga. Oz Palembang termasuk radio berpengaruh selain radio momea (?)disana hanya mungkin kurang dana jadi bangkrut

    Yang kedua mungkin 99ers Jakarta. Mereka kesannya sok sokan pakai 99.9 fm atau celah antara RKM dan Heartline yang seharusnya jadi alternatif untuk radio komunitas. Saya dengar disini tumpang tindih frekuensinya. Ada dangdut ada suara timpa dari 99.7 dan 100.2 fm Tangerang, dll…

    Ada pengumuman dan tanda tanda di twitter @99ersradio_jkt mereka tutup sejak Mei. Account mereka kosong sejak mas johannes beritahukan hal bangkrut itu dan menandakan mereka bangkrut.

    99ers ini kalah karena celah RKM-Heartline ini jadi frekuensi rebutan komunitas sejak 107.5-107.8 plus celah 93.0-94.0 habis dipakai. 99ers jadi mirip radio komunitas deh.

    • 12
      Johannes Says:

      Mas Misael, sebenarnya FM 99.9 Mhz diperuntukkan (awalnya) untuk Radio Draba yang pindah frekuensi dari 88.3 sejak tahun 2004 (tahun dimana adanya penataan ulang FM secara nasional). Radio Draba berubah menjadi Radio CnJ 99.9 FM (Classic n Jazz). Lalu (mungkin) dibeli oleh 99ers Bandung. Sebenarnya frekuensi 99.9 FM adalah frekuensi keberuntungan 99ers karena di Bandung tidak bisa memakai kanal 99.9 FM karena yang tersedia adalah 100 FM. Frekuensi yang anda maksud memang sangat penuh. Misalkan, 100.1 FM milik Lesmana FM Bogor, 100.2 FM milik Amirah FM Tangsel, 100.3 FM milik Elgangga FM Bekasi. Belum lagi jika ada radio komunitas dan radio gelap. Yang anda alami sama seperti di lokasi saya namun frekuensinya berbeda.
      (Info tambahan) Perlu diketahui bahwa radio yang membuka cabang di kota lain belum tentu menang 100% seperti di kota dimana pusat dia berada. Karena daerah lain sudah punya pilihan. Misalnya, sebuah radio anak muda di Jakarta memiliki cabang di kota Medan. Di Jakarta, ia nomor 1 radio anak muda, namun di Medan belum tentu, karena di Medan sudah ada KISS FM. Agak susah menyalip. Anak muda atau orang yang merantau ke Jakarta jika ditanya dia berasal dari Palembang, kemungkinan dia tahu Momea FM. Dia berasal dari Manado saat di jakarta ditanya apakah kenal dengan Memora FM, pasti tahu dst. Makanya radio lokal di daerah tidak perlu cemas jika radio jaringan masuk di daerah.

      • 13
        Misael Says:

        Balasan komentar mas johanes di atas yg baru saya lihat hari ini benar. Radio daerah, asal sudah punya posisi dan image pasti susah disalip radio lain. Di Bandung posisi Ardan saja susah dilewati Oz Radio, 99ers dan Prambors Bandung (nama lain yang diingat orang Bandung kalo ditanya radio anak muda Bandung). Di Jakarta bahkan Gen FM yang kuat di pasaran susah dilewati kakaknya sendiri yaitu Prambors dan Urban RKM (aneh ya, saudara bisnis kok bisa saingan?). Amirah, RKM dan Heartline susah menggeser posisi Star Radio yang dikenal sebagai pelopor radio hits Tangerang (karena RKM dianggap Jakarta meski lokasi di Ciputat). Surabaya punya “paket” Mahaka-Masima tanpa Female Radio dan tentu jak fm😀, tapi bahkan Gen FM Surabaya yang bawa bawa Gen FM (tapi jarang relay dari Jakarta) belum bisa menggoyang Istara FM dan EBS.

        Masalah kedua juga, konten radio jaringan suka dianggap jakarta sentris sama orang lokal. Misal, radio Elshinta memberitakan macet di jakarta sampai ke Jogja. Radio Prambors membahas pemadaman listrik di Jakarta sementara di Makassar lagi byarpet sepertinya terabaikan. Ada iklan sebuah kafe dan perumahan mewah di jakarta yang tersiar sampai Manado. Sementara iklan dari daerah disiarkan nasional cuma waktu pilkada, promosi wisata, dll.

        Inilah bisnis radio. Dibanding bisnis televisi dan internet persaingan mereka ini tidak ada apa apanya.

  8. 14
    misael Says:

    Nah mengapa 99ers bandung bisa bertahan di frekuensi rebutan 100 FM itu? Karena ada KLCBS dan RDI. Kok begitu? Mereka berdua mencegah radio komunitas mencaplok frek sekitar 100 FM. Selain itu pengaturan radio di bandung juga baik, KPID juga giat mengawasi radio komunitas agar tidak keluar dari 107.7 tdk seperti KPID Jakarta yang televisi sentris.

    • 15
      radiobandung Says:

      Berdasarkan aturan, saya kira, radio komunitas tak boleh di frekuensi FM 100 MHz. Radio-radio komunitas itu ditempatkan di 107.7, 107.8, dan 107.9. Karenanya, Radio 8eh ITB yang sejak orde baru berada di FM 100 MHz pindah ke frekuensi radio komunitas.

      • 16
        misael Says:

        Yang dimaksud “radio komunitas” itu radio iseng iseng, radio liar atau sedang cari frekuensi om. Bukan radio komunitas berijin. Di jakarta banyak sekali frekuensi “gelap” di range 99.7-100.1 fm. Minimal ada satu radio gelap di frek itu. Di bandung setahu sy tidak ada blank spot di 100 fm.

      • 17
        radiobandung Says:

        Ya, saya juga paham. Dalam kamus blog saya, itu radio gelap🙂 Toh radio komunitas pun sekarang ini seperti radio biasa yang terpaksa hadir di frekuensi untuk radio komunitas. Kehabisan jatah he he.

  9. 18
    Johannes Says:

    Tebakan mas Misael benar. Namun Oz Radio Lampung dan 99ers Lampung sudah tidak ada juga. Untuk 99ers Jakarta sudah dibeli oleh SYS NS Radio. Awal tahun ini, di Jawa Tengah ada sebuah radio juga yang kejadiannya seperti di atas alias menghilang dari udara. Radio ini memiliki jaringan namun pusatnya bukan di Pulau Jawa dan Sumatera namun punya jaringan di kota di Pulau Sumatera bahkan Jakarta. Di tahun ini pula penambahan ada radio baru dari jaringan radio yang sudah ada. Ada satu jaringan akan membuka siarannya di Sumatera dan satu jaringan yang lain akan membuka siarannya di Sumatera dan sebuah kota di Sulawesi. Kedua jaringan ini cukup kuat di bidang broadcasting. Silahkan tebak.🙂

  10. 19
    misael Says:

    Mas Johanes saya baru tahu di Lampung pernah ada 99ers… Oz radio lampung juga baru saya buka twitter mereka tidak aktif sejak Agustus tahun lalu. Saya baru ngeh tentang formasi 3 kota oz radio ketika dengar RAISA DI RADIO.

    Ngomong ngomong oz radio jakarta menghilang dari udara Tangerang sejak Oktober lalu. Oz sendiri masih aktif kok dan sy sadar jangkauan oz melemah (sekarang di cikampek saja susah dapat signal) mungkin ketutup gedung di daerah kemang. Tentang frekuensi oz hilang di seluruh tangerang kecuali Bintaro Ciledug biang keladinya ada dekat rumah saya. Ada pemancar yg sepertinya untuk sabotase atau amatiran di Karawaci yg dulu pernah menabrak 98,7 gen fm

  11. 20
    Johannes Says:

    Mas Misael, anda mirip para DXers. DXers itu adalah kumpulan pendengar radio yang memonitor sinyal radio. Mantap. Kita diskusi ini seperti kita yang berdua yang punya blog. hehehehe… . Saya juga dulu begitu suka memantau sinyal radio.
    Di Lampung pernah ada 99ers namun tidak bertahan lama. Saya perhatikan website 99ers Bandung juga seperti tidak diurus. Sedangkan para pemasang iklan atau pendengar radio diluar kota biasanya melihat dan menilai radio dari website (salahsatunya). Banyak radio berlomba-lomba buat streaming dan mendesain website sebagus mungkin agar pemasang iklan tertarik malah ada radio websitenya tidak diurus.😦.
    Mas Misael, saya mau tanya, formasi 3 kota Oz Radio di Raisa di Radio, apa ya? Raisa itu nama radio?
    Kalau tidak keberatan bisa minta e-mail atau fb mas Misael? E-mail saya ada di : joe.rikev@yahoo.com. Thanks.

  12. 21
    misael Says:

    Raisa itu nama selebritis mas john dan dia punya program khusus di oz radio 3 kota itu. Formasi oz tinggal jakarta bandung denpasar yg keurus. Oz jakarta tahun lalu kekurangan pengiklan sampai di prime time pernah tidak ada iklan apapun selain program mereka. Sekarang mulai ada yg ngiklan lagi setidaknya wings food.

  13. 22
    misael Says:

    Sayangnya web 99ers tdk keurus begitu padahal harga domain mereka saja 999.fm SANGAT MAHAL dan perkiraan saya krn langka ini kalau sampai dijual minimal bisa dapat US$ 500 dan pasti jadi rebutan pengusaha radio 99,9 fm sedunia!

  14. 23
    Johannes A. Says:

    Ya, benar Misael. Harga domain 999.fm memang sedang diincar radio lain di dunia bahkan bisa jadi radio fm di Indonesia. Saya yakin mereka terus memantau domain ini. Sebenarnya masalah tidak diurus website radio dan sosial media milik radio pernah saya dan teman-teman diskusikan di sosial media. Dalam waktu dekat saya dan teman-teman mau diskusi seputar logo radio. Ada 2 radio di Jakarta mirip dengan radio siaran di negara lain. Apakah radio yang di Jakarta meniru atau terinspirasi dengan logo radio di luar negeri atau sebaliknya. Bicara mengenai radio tidak ada habisnya…

    • 24
      radiobandung Says:

      Nama domain juga sebuah investasi. Ya, mirip-mirip “penyimpanan” frekuensi radio. Daripada dimiliki orang/pihak lain, lebih baik disimpan dulu. Misalnya beberapa radio yang hanya menyiarkan lagu-lagu dan sejenisnya. “Tiarap” dulu untuk memantau keadaan masa depan.

      Soal update juga memang soal kesediaan content dan “malas/rajin”-nya pengelola. Contohnya saya sebagai pengelola blog ini🙂

  15. 25
    Anonim Says:

    salam kenal, saya pemerhati radio di sebuah kota di jawa tengah

    • 26
      radiobandung Says:

      Salam kenal kembali🙂 Wah penikmat dan peminat dunia radio tampaknya makin dan selalu bertambah nich.

  16. 27
    Anonim Says:

    Mulai Februari ini Smart fm semarang berganti menjadi C-Radio 93.4 fm…Be Ultimate You…sudah bukan lagi SMART FM The spirit of Indonesia

  17. 28
    andromeda-semarang Says:

    Juga radio Gaya fm (satu network dengan gaya fm bekasi) juga berubah menjadi Gaya Nusantara Fm (manajemen baru)….tagline ikut berubah….tidak lagi “improving quality of life” seperti gaya fm bekasi…sekarang menjadi “gaya dan musik paling asyik”

  18. 29
    merry Says:

    iwak pewek

  19. 30
    Misael Says:

    Balasan komentar mas johanes di atas yg baru saya lihat hari ini benar. Radio daerah, asal sudah punya posisi dan image pasti susah disalip radio lain. Di Bandung posisi Ardan saja susah dilewati Oz Radio, 99ers dan Prambors Bandung (nama lain yang diingat orang Bandung kalo ditanya radio anak muda Bandung). Di Jakarta bahkan Gen FM yang kuat di pasaran susah dilewati kakaknya sendiri yaitu Prambors dan Urban RKM (aneh ya, saudara bisnis kok bisa saingan?). Amirah, RKM dan Heartline susah menggeser posisi Star Radio yang dikenal sebagai pelopor radio hits Tangerang (karena RKM dianggap Jakarta meski lokasi di Ciputat). Surabaya punya “paket” Mahaka-Masima tanpa Female Radio dan tentu jak fm😀, tapi bahkan Gen FM Surabaya yang bawa bawa Gen FM (tapi jarang relay dari Jakarta) belum bisa menggoyang Istara FM dan EBS.

    Masalah kedua juga, konten radio jaringan suka dianggap jakarta sentris sama orang lokal. Misal, radio Elshinta memberitakan macet di jakarta sampai ke Jogja. Radio Prambors membahas pemadaman listrik di Jakarta sementara di Makassar lagi byarpet sepertinya terabaikan. Ada iklan sebuah kafe dan perumahan mewah di jakarta yang tersiar sampai Manado. Sementara iklan dari daerah disiarkan nasional cuma waktu pilkada, promosi wisata, dll.

    Inilah bisnis radio. Dibanding bisnis televisi dan internet persaingan mereka ini tidak ada apa apanya.


RSS Feed for this entry

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: