Ketika Hujan (Petir) Mematikan Siaran Radio, Siapa yang Menemani?

Selama bulan Maret 2014 ini, kawasan Bandung Raya masih diwarnai hujan. Entahlah, apakah jatuhan hujan itu membasahi seluruh kawasan Bandung Raya atau tidak. Paling tidak, meskipun di daerah dimana saya tinggal tidak hujan, saya mendengar siaran radio yang mengumandangkan hujan di daerah lain. Begitu pun sebaliknya.

Saya masih ingat dan memerhatikan siaran radio, tampaknya ada tiga kali hujan lebat yang sempat mematikan siaran radio. Namun, dari tiga kali itu, hanya sehari yang mematikan hampir semua radio di Bandung. Itulah ketika hari Sabtu, 8 Maret 2014 jam 23.10 WIB.

Setelah saya pantau, ternyata hanya ada 14 radio yang mengudara, yaitu Hardrock, Mora, Elshinta Bandung, Maestro, Sonora Bandung, On, RRI Pro 2 Bandung, New Shinta, RRI Pro 1 Bandung, Prambors, Raka, MQ, Oz, dan salah satu radio di frekuensi 107.9 MHz.

Lalu apa menariknya saya menceritakan tiga paragraf di atas? Saya kira, itu tidak menarik. Namun demikian, hal yang menarik bagi saya ialah ketika di cuaca normal, ada beberapa radio yang penyiarnya mengatakan begini: “Kini saya bersama anda dan menemani anda”. (Kata-katanya tentu tidak seperti itu dan itu hanyalah lebih kurang).

Yup, ketika dalam suasana normal, penyiar, dalam hal ini radio, memang menemani pendengarnya. Akan tetapi, sejatinya terbalik ya? Justru pendengarnyalah yang selama ini menemani radionya. Hal ini terjadi, baik pada “radio musik” maupun “radio informasi (berita)”. (Terserah, kalau anda punya penyebutan lain).

Ironisnya, kalau itu radio informasi (berita), wah tampaknya pendengarnyalah yang menemani radionya, dan bukan sebaliknya. Coba perhatikan, pada saat pendengar melaporkan informasinya kepada radio, eh radionya justru mati karena hujan (petir). Padahal pendengarnya butuh informasi lanjutan. Pendengarnya butuh ditemani dan itu diklaim penyiarnya: “Kami menemani anda”.

Jadi, “radio yang menemani pendengar” ataukah “pendengar yang menemani radio”? Secara sekilas kita bisa mengatakan bahwa sejatinya pendengarlah yang menemani radio. Paling tidak, sampai saat ini. Yup, itu ketika siaran radionya mati karena hujan (petir).

3 Comments »

  1. 1
    Tintin Kristiana Says:

    Jadi inget waktu dulu masih siaran di Radio Chevy 103.7 FM (sekarang 103.5 FM) sekitar tahun 1999an, waktu masih ada Om Yanto (Pemilik Radio Chevy) yang sangat piawai dalam hal teknis radio.

    Waktu itu siaran jam 3-6, trus sekitar jam 5an hujan besar sekali + kilat, trus biasanya khan transmitter dimatiin jadi ga ada siaran karena menghindari kesamber kilat yang mengakibatkan rusaknya transmitter.

    Trus saya tanya Om Yanto, “gimana Om, dimatiin aja?” kata Om Yanto, “ga usah, jalan terus!” Saya agak bingung, kalau kesamber kilat gimana Om, katanya “gampaanng…”

    Ya udah saya terus aja siaran, dan sy coba-coba buka frekuensi radio FM lain, ternyata semuanya OFF…cuma Chevy sendiri yang ON Air…asik juga jadi satu-satunya radio di Bandung yang bisa menemani pendengar ketika hujan besar.

    Setelah siaran saya tanya Om Yanto, “kok yang lain pada mati Om?” Katanya, “ya kalau kesamber kilat bisa 2jt sekali benerin. Trus biasanya khan saya yang benerinnya,” begitu kata Om Yanto…..Ooo…no wonder…🙂


RSS Feed for this entry

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: